Sabtu, 07 Januari 2012

MOBIL-MOBIL PRODUKSI INDONESIA MULAI DIMINATI BANYAK ORANG

Tawon Mampu Produksi Mobil 50 Unit Setiap Bulan

REPUBLIKA.CO.ID,RANBGKASBITUNG--Produksi mobil bermerk Tawon buatan pabrik PT Super Gasindo Jaya di Rangkasbitung Kabupaten Lebak sebanyak 50 unit per bulan untuk memenuhi permintaan pasar di wilayah Provinsi Banten.
"Sebetulnya, mobil produksi kami juga sudah dibeli oleh Pemerintah Provinsi Banten sebagai kendaraan dinas pada 2006," kata Devi Arya Putri, Personel Manager PT Super Gasindo Jaya di Rangkasbitung, Sabtu.
Ia mengatakan, produksi mobil hasil kreasi pelajar sekolah menengah kejuruan (SMK) di bidang otomotif di Rangkasbitung Kabupaten Lebak cukup membanggakan. Sebab mobil rakitan anak-anak pelajar SMK Rangkasbitung banyak permintaan untuk dinas pemerintahan, perusahan swasta maupun kendaraan pribadi.

Bahkan, sebuah koperasi di Surabaya memesan 200 unit mobil Tawon, yang disampaikan saat mengikuti pameran di Surabaya setelah menempuh perjalanan dari Rangkasbitung-Surabaya selama 19 jam dengan kecepatan maksimal 100 kilometer per jam.
Menurutnya, produksi mobil Tawon sejak 2006, namun awal 2010 mengalami sejumlah perubahan desain. Desain mobil diciptakan pemilik PT Super Gasindo Jaya, Koentjoro Njoto dengan nama mobil Tawon sebagai kendaraan mini, namun kuat dan cekatan.
Saat ini produksi mobil Tawon memiliki tiga varian, yakni model bak terbuka, model mini van serta model tawon. Model terakhir bisa memuat lebih dari tiga orang penumpang.
"Semua mobil Tawon itu bisa menggunakan bahan bakar premium dan gas," katanya.
Ia menjelaskan, komponen interior dan eksterior seluruhnya produk buatan asli Indonesia, namun mesinnya masih didatangkan dari China.

Harga mobil buatan pelajar SMK Rangkasbitung itu berkisar antara Rp 40 juta sampai Rp 60 juta per unit. "Kami dalam waktu dekat ini dipastikan membuka showroom di daerah Serang, Banten dan lokasinya sudah ada," katanya.
Ia menambahkan, saat ini produksi mobil Tawon dikerjakan sekitar 30 orang dan sebagian besar dari SMK jurusan otomotif di Rangkasbitung. "Kami saat ini hanya mampu produksi 50 unit mobil Tawon per bulan," ujar Devi Arya Putri.

Jangan Sampai Berhenti di Mobil Esemka Saja

Saat pejabat negara berganti mobil dinas biasanya yang muncul adalah celaan. Betapa anggaran negara dihambur-hamburkan demi kendaraan yang lebih mendukung gengsi daripada fungsi. Tetapi, Wali Kota Solo Djoko Widodo membuat gebrakan dengan memilih produk lokal untuk jadi mobil dinasnya yang baru. Mobil jenis sport utility vehicle (SUV) bermerek Kiat Esemka ini dibuat oleh siswa-siswa SMK dengan bekerjasama bersama pemilik bengkel Kiat, Sukiyat, seorang pria yang tidak lulus STM di Klaten.

Aksi Jokowi menggunakan mobil seharga Rp 95 juta ini kemudian malah bergulir menjadi sesuatu yang politis. Dari Gubernur Jawa Tengah, Wali Kota Semarang, sampai Gubernur Jawa Timur ikut mengomentari langkah wali kota populer tersebut. Ada yang menyarankan agar Jokowi "jangan narsis", ada juga yang menyayangkan kenapa Jokowi menggunakan mobil yang surat-suratnya belum lengkap dan belum memenuhi standar keamanan, atau menyebut langkah Jokowi lebih cocok menjadi tagline kampanye.

Terlepas dari perdebatan politik soal motivasi Jokowi, yang seharusnya menjadi sorotan dalam berita ini adalah adanya sekumpulan anak-anak SMK, dengan bantuan sebuah bengkel mobil, telah berhasil merakit sebuah mobil. Inovasi teknologi jarang menjadi prioritas di Indonesia. Sehingga langkah Jokowi seharusnya dilihat sebagai upaya merangsang munculnya inovasi-inovasi teknologi lain itu.

Indonesia biasanya tidak dikenal karena keberpihakannya pada inovasi teknologi dan penelitian. Ketergantungan kita pada sumber daya alam terlalu besar. Indonesia pun terlena, tak mengembangkan sektor pendidikan dan teknologinya.

Padahal, jika kita membandingkan dengan Korea Selatan yang baru merdeka pada 1948, inovasi teknologi adalah kunci kebangkitan mereka sebagai suatu negara karena mereka tak kaya sumber daya alam seperti Indonesia.

Sementara di Indonesia, proyek mobil nasional Timor yang pernah dimiliki Indonesia justru menjadi akal-akalan impor mobil KIA dan sebuah skema pengurangan pajak. Indonesia pun sempat memiliki industri pesawat terbang nasional yang kini dibiarkan mati. Inovasi teknologi lain, bahan bakar blue energy yang berbahan dasar air, juga tidak jelas dasar ilmiah dan pengembangannya.

Bahkan, 'penemu' blue energy Djoko Suprapto sempat dilaporkan ke Polda Daerah Istimewa Yogyakarta oleh Universitas Muhammadiyah Yogyakarta atas dugaan penipuan sebesar Rp 1,5 miliar untuk proyek pembangkit listrik Jodipati dan energi alternatif Banyugeni.

Rendahnya anggaran riset penelitian menyebabkan banyak peneliti Indonesia yang lebih memilih untuk bekerja di luar negeri. Alhasil, inovasi-inovasi penelitian yang berhasil mereka temukan tidak terjadi di Indonesia.

Meski begitu, kisah Jokowi dan mobil Esemka membuktikan bahwa tanpa dukungan pemerintah pun, inovasi sudah terjadi di tingkat masyarakat. Ada orang-orang yang, meski tanpa kualifikasi pendidikan 'awam' seperti Sukiyat, memiliki kreativitas, mimpi besar, dan kemudian bisa mewujudkannya.

Kami yakin, Sukiyat dan murid-murid SMK pembuat mobil Esemka bukanlah satu-satunya. Ada banyak orang-orang lain yang berusaha mengembangkan inovasi dan teknologi, melakukan berbagai eksperimen ilmiah, dengan caranya sendiri, baik dalam tugas sekolah ataupun secara pribadi. Kami juga percaya, pendidikan, inovasi-inovasi teknologi, serta inisiatif masyarakat adalah cara untuk membangkitkan Indonesia. Dan jangan sekadar menyandarkan diri pada kekayaan alam.

Menurut Anda, apa yang bisa dilakukan untuk memunculkan lebih banyak inovasi teknologi di masyarakat? Jika Sukiyat dan sekumpulan murid-murid SMK bisa melakukannya secara mandiri, apakah menurut Anda dukungan pemerintah masih dibutuhkan?

Jika Anda menjawab iya, apa yang menurut Anda bisa dilakukan pemerintah, baik pusat maupun wilayah, untuk mendorong munculnya lebih banyak penelitian dan inovasi teknologi?

Bagaimana sekolah bisa mendorong murid-murid untuk melakukan lebih banyak eksperimen ilmiah? Sudah cukupkah sekolah memberi perhatian pada penelitian yang dilakukan oleh siswa-siswanya?

Dan tentu saja, jangan sampai Esemka menjadi sebuah kesempatan yang terlewatkan. Apa menurut Anda yang bisa menjadi langkah selanjutnya untuk mengembangkan mobil Esemka?

Kami menunggu jawaban, komentar, dan tanggapan Anda lewat forum komentar di bawah ini.

 
Sumber Info : 
http://id.berita.yahoo.com/tawon-mampu-produksi-mobil-50-unit-setiap-bulan-093116889.html
http://id.berita.yahoo.com/blogs/newsroom-blog/jangan-sampai-berhenti-di-mobil-esemka-saja.html

5 komentar:

Samuel & Ester mengatakan...

Boleh saya tahu kalau saya ingin memesan mobil tawon ke mana? apa ada kontak person nya? mohon hub saya di : gapuraning.printing@gmail.com
Terima kasih

PEMBICARA Internet Marketing mengatakan...

Dunia IT sudah semakin berkembang, Apalagi dengan banyaknya wirausaha yang berwirausaha, mari Ikuti Workshop Internet Marketing di Yogyakarta Indonesia.

info lebih lanjut dapat MELIHAT :
http://www.pembicarainternetmarketing.com/camp-speed-online-marketing.html

Terima kasih, Simpati : 081 333 841 183

MUKENA MURAH mengatakan...

Pak Karno berkata :

Indonesia harus BERDIKARI, berdiri diatas kaki sendiri, Termasuk dalam urusan mobil. Kalo kita mampu produksi kenapa harus import.

Kami MUKENA ANAK DISTRO sangat mendukungnya

Oik's mengatakan...

saya yakin suatu saat nanti akan banyak mobil asli buatan anak indonesia berseliweran di jalan-jalan raya. mari kita dukung sepenuhnya karya anak bangsa sendiri.
jangan malu pakai produk sendiri!!!
Oik's bangga jual tas rajut merk KAAY

Tiban Jaya mengatakan...

kami kursi makan rotan dukung dahlan iskan mewujudkannya



Populer Posting

Mengenai Saya

Foto saya
Life is a success, success if we can always grateful grace of God every second every time, or success if we can share the happiness of others, success is because of Life was created by God with full success:-)